Beranda | Artikel
Ilmu Yang Dasar
Rabu, 7 Agustus 2019

Bismillah.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, sebagai seorang muslim menuntut ilmu adalah kebutuhan bagi kita. Karena dengan ilmu itulah kita akan bisa mengenal cara yang benar dalam meraih kebahagiaan.

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr : 1-3)

Surat yang agung ini memberikan faidah bahwa keberuntungan dan kebahagiaan hanya bisa diraih oleh kaum beriman. Hanya orang beriman yang akan bisa merasakan kenikmatan hidup yang hakiki.

Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang diberikan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (al-An’am : 82)

Keimanan yang benar adalah keimanan yang dilandasi dengan ilmu dan pemahaman. Keimanan yang tidak terkotori oleh syirik dan kekafiran. Karena iman itu mencakup keyakinan di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal-amal anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan menjadi berkurang karena maksiat.

Ilmu tentang iman adalah perkara yang sangat mendasar. Yang dengan ilmu ini seorang hamba akan bisa beribadah kepada Allah dengan benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemahaman dalam agama adalah kunci kebaikan seorang hamba. Dan pemahaman yang paling pokok adalah mengenai aqidah Islam dan tauhid kepada Allah. Inilah yang menjadi tujuan penciptaan jin dan manusia. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)

Beribadah kepada Allah dan tidak berbuat syirik. Inilah tema utama dakwah setiap rasul kepada umatnya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah ayat (yang artinya), “Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36). Thaghut adalah segala bentuk sesembahan selain Allah. Maka wajib bagi seorang muslim selain beribadah kepada Allah untuk selalu menjauhkan diri dari perbuatan syirik.

Syirik merupakan dosa besar yang paling besar. Karena syirik itu akan menghapuskan seluruh amalan dan menyebabkan pelakunya kekal berada di dalam neraka. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (al-Ma-idah : 72)

Diantara bentuk syirik itu adalah berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah (dalam rangka ritual ibadah), bernadzar untuk selain Allah, mempercayai paranormal, beristighotsah/meminta keselamatan kepada selain Allah, dsb.

Ibadah adalah hak Allah. Tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah selain Allah. Menujukan ibadah kepada selain Allah sembari pelakunya juga beribadah kepada Allah adalah syirik. Mungkin orang itu rajin sholat dan rajin puasa, tetapi apabila dia mempersembahkan sembelihan atau berdoa kepada selain Allah maka hal itu adalah dosa syirik yang akan menyebabkan amal-amalnya terhapus.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan seandainya mereka itu berbuat syirik pasti akan lenyap semua amal yang dahulu telah mereka kerjakan.” (al-An’am : 88). Maka kita wajib untuk mengenali syirik dan menjauhinya. Sebagaimana sholat tidak diterima apabila pelakunya berhadats maka begitu pula keislaman kita tidak akan diterima apabila pemeluknya melakukan syirik akbar yang mengeluarkan dari agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syirik adalah keharaman yang paling berat dan kezaliman yang paling besar. Bagaimana mungkin anda menujukan ibadah kepada selain Allah; padahal hanya Allah yang menciptakan dan memberi rezeki?! Bagaimana bisa anda menjadikan tandingan sesembahan bagi Allah; padahal segala kerajaan langit dan bumi adalah milik-Nya?

Allah berfirman (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21). Apabila kita telah mengakui bahwa Allah satu-satunya pencipta dan pengatur alam ini maka wajib bagi kita untuk menujukan ibadah kepada Allah semata.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Yogyakarta, 6 Dzulhijjah 1440 H

Redaksi al-Mubarok.com

–semoga Allah berikan taufik kepada kami dan anda–


Artikel asli: https://www.al-mubarok.com/ilmu-yang-dasar/